Facebook Fans Page

Mengenal RM Soetomo Mangkoedjojo, Ketua Umum PSHT Pertama

RM Soetomo Mangkoedjojo
Peletak Dasar Demokratisasi SH Terate

Suatu malam di tahun 1963, Soetomo Mangkoedjojo, datang ke rumah Tarmadji Boedi Harsono, siswa SH Terate asuhan RM Imam Koesoepangat.

Tentu kehadiran beliau cukup mengaget Tarmadji. Alasannya, tokoh SH Terate yang saat itu menjabat sebagai Ketua SH Terate, rela menyempatkan waktu bersilaturahmi kerumah siswa SH Terate.

“Pak Tomo, mangga Pak mangga,” ungkap Tarmadji agak gugup.”Onten napa Pak, onten dhawuh punapa?” (O, Pak Tomo, silahkan Pak, mangga. Ada apa Pak, ada yang bias saya kerjakan)”

“Ora apa apa Dik. Awakmu wis turu to. Yawis boboka maneh, “ jawab Soetomo, sambil menatap tajam pada Tarmadji. Taklama kemudian, beliau mohon diri dan menyalami Tarmadji dengan kasih dan arif sambil berucap, “ Ora ana apa apa Dik. Wis boboka maneh.” (Tidak ada apa apa Dik. Kamu sudah tidur to? Ya sudah silakan tidur lagi).

Paginya, sebagai rasa hormat kepada “saudara sepuh” sekaligus terdorong rasa ingin tahu, Tarmadji sowan ke kediaman Soetomo. Maksud kedatangannya, menanyakan keperluan beliau datang kerumahnya tadi malam.

“Gak apa apa Dik. Awakmu nesu to, aku bengi bengi teka mertamu?,” ujar Soetomo saat Tarmadji kembali menanyakan maksud kehadiran Soetomo.(Gak apa apa Dik. Kamu marah ya, saya datang malam malam kerumahmu?)

Tarmadji menjawab santun,” mBoten Pak! (Tidak Pak!)

Soetomo Mangkoedjojo tersenyum. Setelah, mengamati Tarmadji, dan menghela nafas, beliau berkata,” Dik, paseduluran nang SH Terate, nek ana sedulure teka, ndodok lawang sakwayah wayah, awan apa bengi, bukakna lawang sing amba. Sebab nekana dulur mertamu iku mesti nggawa warta utawa wara wara.” (Dik, persaudaraan di SH Terate itu, jika ada saudara datang, mengetuk pintu, sewaktu-waktu, entah itu siang entah malam, bukakan pintu rumahmu lebar lebar. Sebab kedatangan saudaramu itu pasti membawa berita penting).

Penggalan perjalanan hidup Soetomo Mangkoedjojo dengan Tarmadji Boedi Harsono (Ketua Umum SH Terate Pusat Madiun periode 1981 – 2014), setidaknya bias dijadikan acuan, tingkat kearifian Soetomo Mangkoedjojo.

Betapa tidak, Soetomo, yang dikenal sebagai tokoh peletak dasar demokratisasi di SH Tereate, pun saat itu juga masih menjabat sebagai Dewan Pusat, masih menyempatkan waktu berkunjung ke siswa SH Terate.

Bahkan, maksud kedatangannya itu justru untuk memberikan wejangan luhur, tentang perilaku bebrayan agung (persaudaraan) di tubuh SH Terate.

Mas Madji, panggilan akrab Tarmadji, secara pribadi mengakui, nasihat luhur itu hingga di usia beliau yang saat tulisan ini diunggah genap 70 tahun, masih terngiang dan dipegang teguh. Atas dorongan nasihat itupula, Mas Madji selalu membuka pintu 24 jam bagi saudara SH Terate yang berkunjung kerumahnya.

Sejumlah sumber data yang berhasil dikumpulkan, menyebut, Soetomo Mangkoedjojo merupakan putra Madiun, yang perjalanan hidupnya diwarnai dharma kemanusia.

Soetomo Mangkoedjojo lahir di Madiun tanggal 20 Januariu 1918 dari pasangan Soema Soekarto dan Ibu Ingah. Beliau tercatat sebagai anggota TNI dengan pangkat terakhir Kapten. Tugas terakhir beliau Kabag Keuangan Kodam V Brawijaya. Beliau juga tercatat sebagai anggota veteran. Pun sempat berprofesi sebagai karyawan BRI.

Beliau pulalah yang semasa hidupnya membantu mengurus pengukuhan Ki. Hadjar Hardjo Oetomo, pendiri SH Terate sebagai Pejuang Perintis Kemerdekaan RI.

Dalam buku Sejarah SH Terate yang ditulis oleh Bambang Tunggul Wulung (putra beliau), RM. Soetomo Mangkoedjojo adalah murid dari Ki Hadjar Hardjo Oetomo ( Pendiri SHT ). Beliau disyahkan menjadi pendekar tingkat I pada tahun1928. Berikutmurid– murid Ki Hadjar Hardjo Oetomo yang disyahkan pada tahun 1928 adalah sebagai berikut:

– Bapak Soetomo Mangkoedjojo (Madiun) – Bapak Hardjosajano alias Hardjo Girin (Kepatihan Madiun) – Bapak Moch Irsad (Madiun) – Dewan pengesah : Ki Hadjar Hardjo Oetomo – Pelaksanaan Pengesahan : Di kediaman KiHadjar Hardjo Oetomo, Desa Pilangbango Madiun.

Kesabatan, keuletan, kedisiplinan serta kesetiaan dalam mengemban amanat ajaran SH Terate akhirnya menempatkan beliau ke tataran tertinggi dalam stratafikasi pendidikan dan pelajaran SH Terate. Yakni, berhasil disyahkan menjadi Pendekar Tingkat III SH Terate.

Pada tahun 1936 R.M. Soetomo Mangkoedjojo mendirikan Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Ponorogo, dan pengesahan pertama dilakukan pada tahun 1938 yang mengesahkan sebanyak 4 orang.

Pada tahun 1948 beberapa murid Ki Hadjar Harjo Oetomo antara lain Soetomo Mangkoedjojo, Darsono, Suprodjo, Hardjo Giring, Gunawan, Hadisubroto, Hardjo Wagiran, Letnan CPM Sunardi, Sumadji al. Atmadji, Badini, Irsad dan kawan–kawan mempunyai prakasa untuk mengadakan konfrensi di tempat kediaman Ki Hadjar Harjo Oetomo. Tujuan diadakan konfrensi tersebut adalah untuk merubah/mengganti sifat Perguruan menjadi Organisasi Setia Hati Terate yang mempunyai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Setelah Organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate dikukuhkan menjadi suatu organisasi maka di pilihlah R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai ketua dan Bapak Darsono sebagai wakil ketua. Kemudian pada tahun 1953 karena pekerjan beliau dipindah tugaskan ke Surabaya selanjutnya Ketua Persaudaraan Setia Hati Terate diserah terimakan kepada bapak Irsad. Pada tahun 1958 R.M. Soetomo Mangkoedjojo mengesahkan Sdr. R.M Imam Kussupangat, Sdr. Kuswanto. BAdan Sdr. Harsanto. SH menjadi warga tingkatI, pengesahan dilakukan di Oro–Oro Ombo Madiun di rumah Bapak Santoso.

Pada tahun 1963 R.M. Soetomo Mangkoedjojo melatih langsung Sdr. R.M Imam Kussupangat tingkat II. Dan pada tahun 1964 Sdr. R.M Imam Kussupangat disyahkan menjadi warga tingkat II, pengesahan dilaksanakan di Jl. Diponegoro 45 Madiun oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai Dewan Pengesah.

Pada tahun 1966 Sdr. R.M Imam Kussupangat mulai menjalani latihan tingkat III karena dianggap berhak untuk menerima ilmu Setia Hati tingkat III oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo. Dimana ilmu tersebut berdasarkan “Wahyu” dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Semenjak itu Sdr. R.M Imam Kussupangat dimulai latihan tingkat III dilatih dan disyahkan oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo ( sebagai Ketua Dewan Pusat dan Dewan Pengesah). Maka dari itu Sdr. R.M Imam Kussupangat tidak lepas sedikit pun peranan dan bimbingan dari R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai pelatih atau disebut sebagai guru dalam pendidikan tingkat II maupun tingkat III

Tahun 1974 diselenggarakan Musyawarah Besar ( MUBES ) I Persaudaraan Setia Hati Terate dengan kesepakatan mengangkat R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai Ketua Dewan Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate dan R.M. Imam Kussupangat sebagai Ketua Umum Pusat.

Berikut adalah kedudukan yang pernah dipegang oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo dalam organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate

– Tahun 1948 adalah Ketua Umum Pusat yang pertama Persaudaraan Setia Hati Terate (dari“ perguruan“ menjadi“ organisasi“ ) – Tahun 1956 Ketua Umum Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate, – Tahun 1964 Ketua Umum Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate – Tahun 1974 Ketua Dewan Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate

Versi lain yang bersumber pada buku Sejarah SH Terate & Persaudaraan Sejati diterbitkan Ketua Umum SH Terate Pusat Madiun, H. Tarmadji Boedi Harsono dan disunting oleh Andi Casiyem Sudin (mantan wartawan Suara Karya & Radar Madiun– Jawa Pos Grup) disebutkan, atas izin Pak Hardjo Oetomo, pada bulan Juli 1948, digelar konferensi 1948, digelar konferensi (musyawarah antar warga SH Terate) di kediaman beliau di Pilangbango, Madiun. Sejumlah murid beliau mulai tampil ke depan. Sebut, misalnya, Bapak Soetomo Mangkoedjojo, Bapak Darsono, Bapak Soemadji, Badini dan Irsad. Saat ini beliau dalam kondisisakit. Separo badannya tak bisa digerakkan.

Temu kadang tersebut melahirkan mufakat, bahwa kegiatan SH Terate harus tetap berjalan dan berkembang. Karena beliau sudah tidak bisa melakukan aktivitas, kegiatan latihan pencak silat mulai diamanatkan kepada murid muridnya. Kemudian, digagas perubahan sistem komunikasi di tubuh SH Terate. Yakni, dari sistem perguruan pencak silat ke sistem organisasi persaudaraan.

Pasca wafatnya Ki Hadjar Hardjo Oetomo, kegiatan SH Terate diteruskan para siswanya. Jumlah anggota yang ikut bergabung, satu demi satu mulai bertambah searah perjalanan waktu.

Era kemerdekaan bergulir pelan tapi pasti dankegiatan SH Terate yang pada masa kolonial diawasi dan dibatasi, ikut merdeka. Ruang gerak warga masyarakat dalam mengembangkan kreativitas, terbuka lebar. Belenggu kolonialisme tak lagi ada, berganti era harapan baru untuk berjuang demi mengisi kemerdekaan.

Sejalan dengan itu, mulai muncul pemikiran tentang format penataan program kegiatan. Posisi “guru” atau pemimpin SH Terate yang vakum setelah Ki Hadjar Hardjo Oetomo wafat, sudah selayaknya diisi.

Gagasan perubahan sistem komunikasi di tubuh SH Terate yang pernah dibicarakan dalam konferensi di Pilangbango pada tahun 1948, semakin mengerucut. Puncaknya pada tanggal 13 September 1953, dengan digelarnya konferensi SH Terate Jl. Diponegoro No.45 Madiun, kediaman Bapak Soetomo Mangkoedjojo.

Konferensi SH Terate saat itu menelorkan sejumlah keputusan penting, antaralain:

1. Menyusun Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) SH Terate yang pertama.

2. Mengangkat Bapak Soetomo Mangkoedjojo sebagai Ketua SH Terate Pusat.

3. Untuk menghargai jasa Hardjo Oetomo yang telah berjuang mendirikan perguruan pencak silat ini, SH Terate memberikan gelar kehormatan kepada beliau dengan Ki Hadjar.

4. Istri beliau, Ibu Inem Hardjo Oetomo diposisikan sebagai Ibu SH Terate.

5. Sementara itu, untuk lebih mengefektifkan program latihan pencak SH Terate, Bapak Santoso dan Pak Badini diangkat sebagai pelatih.

Mengapa langkah pembaharuan itu ditempuh ? Alasannya, pertama agar SH Terate mampu mensejajarkan kiprahnya dengan perubahan zaman dan pergeseran nilai-nilai komunitas yang melingkupinya. Dengan adanya perubahan system komunikasi ditubuh SH Terate dari “paguron” atau “perguruan” menjadi organisasi yang bertumpu pada “sistem persaudaraan”, berarti gaung pembaharuan telah diluncurkan dan proses perubahan telah digelar. Yakni perubahan roh organisasi dari sistem tradisional ke sistem organisasi modern. Dengan konsepini, kelak SH Terate diharapkan mampu menjawab tantangan kehidupan yang semakin kompleks. Alasan kedua; agar SH Terate tidak dikuasai dan bergantung pada orang-perorang, sehingga kelangsungan hidup organisasi dan kelestariannya lebih terjamin. Meski roh organisasi sudah bergeser dari perguruan pencak silat berubah jadi organisasi persaudaraan, namun dalam konsepsi keilmuan (idealisme), tradisi paguron masih tetap dipertahankan. Ini mengingat bahwa SH Terate lahir dari akar budaya pencak silat yang tetap ngugemi prinsip prinsip patrialisme.

Lain kata, konsepsi demokratisasi lebih dikedepankan dalam penataan organisasi. Sementara dalam prosesi pewarisan keilmuan, tradisi paguron atau perguruan pencak silat masih dipegang teguh oleh tokoh tokoh SH Terate. Danini, harus diakui, terus dipertahankan turun temurun, hingga era kepemimpinan RM Imam Kesoepangat dan era kepemimpinan KRAT H. Tarmadji Boedi Harsono Adinagoro,SE. Sebab berdasarkan kajian empiris, tradisi paguron ini justru merupakan roh yang memberikan kekuatan nilai nilai persaudaraan dan kesetia-hatian (ke-SH-an).

Terpilihnya Bapak Soetomo Mangkoedjojo sebagai Ketua Pusat SH Terate pada periode ini, merupakan pilihan yang tepat. Pak Tomo dikenal sebagai tokoh yang cukup arif dan bijaksana. Sosoknya tinggi, tegap dan penampilannya berwibawa. Beliau juga setia dan tegas dalam mengambil keputusan serta teguh dalam memegang prinsip. Satu lagi, pandangannya cukup luas dan terbuka. Beberapa sumber yang berhasil ditemui menuturkan, di balik sosok tinggi dan tegap yang dimiliki beliau, tersembunyi kesantunan kepada sesama.

Dokumen administrasi SH Terate menyebutkan, pada tanggal 11 Agustus, tahun 1966, digelar rapat pengurus pusat SH Terate di Madiun. Hasilnya, untuk menyelamatkan SH Terate, pasca terjadi peristiwa Pemberontakan G 30 S PKI, dipandang perlu melakukan refresing pengurus.

Refresing pengurus ini, berdasarkan Surat Intruksi bernomor 006/Sec/SHT/66 yang ditandatangani Ketua I SH Terate Soetomo Mangkoedjojo dan Sekretaris R. Koeswanto BA, tidak hanya dilakukan di pusat Madiun, akan tetapi juga dilakukan di cabang.

Pada tahun ini, Bapak Soetomo Mangkoedjojo, kembali diangkat sebagai Ketua SH Terate. Sedangkan Wakil Ketua II dan III, masing-masing dijabat Bapak Harsono dan RM. Imam Koesoepangat.

Keputusan penting lain yang dihasilkan pada rapat pengurus pusat ini adalah, SH Terate bersikap netral dan membebaskan diri dari kepentingan politik praktis.


Pada tanggal 14 Desember 1975 R.M. Soetomo Mangkoedjojo wafat dan dimakamkan di Makam Cangkring Madiun. Lokasi Makam Cangkring, sekitar 700 meter sebelah barat Stadion Wilis Kota Madiun.



0 Response to "Mengenal RM Soetomo Mangkoedjojo, Ketua Umum PSHT Pertama"

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.